Analisa Fundamental vs Teknikal vs Bandarmologi

Pengantar

Sebelum kita investasi ataupun trading, analisa adalah hal yang wajib dilakukan. Kalau kita tidak melakukan analisa dulu, itu sama saja dengan “berjudi”. Trading tidaklah sama dengan melempar koin. Kita tidak boleh sembarangan menebak pergerakan saham. Kalau anda mengira bahwa pasar saham itu “untung-untungan” maka saya sarankan anda segera keluar… karena modal anda bisa habis.

Kalau memang “pasar saham” itu judi, harusnya MUI sudah mengharamkan jual beli saham, pemerintah harusnya juga sudah memblokir Bursa Efek Indonesia. Tapi nyatanya tidak kan? Karena yang namanya trading saham ya seperti kita berdagang. Kita beli saham di harga murah, lalu menjualnya di harga lebih mahal. Disitu terjadi pertukaran kepemilikan (exchange). Di situ pula kita mendapat keuntungan, bahkan kalau kita investasi maka tiap tahun bisa dapat bagi hasil/dividen.

Jadi, yang menjadi masalah bukan pasar saham. Tapi adalah tindakan dari trader itu sendiri. Untuk itulah kita harus melakukan analisa terlebih dahulu. Ibarat perang tanpa strategi maka sama saja dengan bunuh diri. Banyak pemula yang suka cari rekomendasi, padahal ia sendiri tidak paham kenapa saham tersebut direkomendasikan. Bisa-bisa cuma pom-pom (dihasut biar beli, padahal bandar yang jual). Sekalipun kita membaca rekomendasi, maka sebaiknya analisa ulang.

Kunci dari analisa adalah percaya dengan diri sendiri. Tidak bisa sekali belajar langsung jadi. Semua perlu waktu dan dedikasi. Kita akan melewati lumpur dan darah sebelum kita menjadi pemenang. Nah, dalam dunia saham ada beberapa teknik analisa yang populer, yaitu: analisa fundamental, analisa teknikal, dan bandarmologi. Semua memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, penjelasannya sebagai berikut:

Analisa Fundamental

Analisa Fundamental adalah teknik untuk meneliti perusahaan/emiten itu sendiri. Misalnya kita cek bagaimana kondisi dan kinerja emiten dari tahun ke tahun (Year on year/yoy) ataupun per kuartal (Q to Q). Semisal kinerjanya konsisten ada peningkatan, berarti harga sahamnya ada potensi naik. Kita juga perlu memperhatikan karakteristik tiap sektor saham karena tidak semua sama.

Analisa fundamental sangat dianjurkan sebelum investasi jangka menengah-panjang (3-10 tahun). Pada analis fundamental percaya bahwa harga saham tidak akan jauh-jauh dari kondisi asli emiten tersebut. Para investor tidak begitu khawatir dengan fluktuasi naik-turun harga, yang penting mereka bisa mencapai tujuan akhir (puncak trend naik).

Value Investing

Teknik paling populer di analisa fundamental adalah value investing, dimana kita mencari harga yang secara valuasi relatif murah dibanding nilai intrinsik sahamnya. Kenapa kok harga saham bisa di bawah nilai intrinsinya? Ada banyak jawaban, seperti: karena koreksi secara teknikal, karena ada penurunan penjualan yang sifatnya sementara, karena ada beban pokok yang meningkat sementara, dsb.

Yang perlu kita perhatikan di value investing, yaitu apakah ada potensi harga kembali seperti semula? Maksudnya, apakah permasalahan yang menyebabkan harga saham turun itu bersifat sementara atau permanen? Bisa tidak harga sahamnya naik lagi? Soalnya banyak sekali saham yang secara valuasi sudah sangat murah, tapi itu karena memang situasi emiten sudah sekarat beneran. Jika hal ini terjadi, ada potensi saham tersebut disuspensi sampai dicabut dari BEI. Alhasil modal kita hilang selamanya.

Contoh valuasi UNVR, sumber: RTI

Ada banyak indikator valuasi di analisa fundamental. Awal-awal bisa belajar cara menghitung nilai instrinsik saham dulu. Kemudian pelajari cara menghitung PBV, EPS, PER, ROE, ROA, dan rasio lainnya. Kita bisa membandingkan kinerjanya dari tahun ke tahun dan membandingkan kinerjanya dengan emiten lain yang masih satu sektor. Apakah di atas rata-rata atau di bawah rata-rata.

Bongkar… bongkar…

Bahasan fundamental itu cukup banyak, sekilas cuma cek valuasi PBV PER selesai. Tapi tidak begitu. Untuk benar-benar mengetahui situasi, kita juga perlu membaca Laporan Keuangan (LK) dan mengamati aksi korporasi. Poin utama di LK adalah laporan neraca, laba rugi, posisi ekuitas, dan arus kas (cash flow). Kalau mau lebih detail lagi, baca CALK-nya (Catatan Atas Laporan Keuangan).

Contoh Laporan Aset Lancar di LK

Belajar LK juga bisa bikin pusing. Setiap sektor memiliki cara penyajian laporan sendiri-sendiri. Misalnya, LK sektor konstruksi, sektor pertambangan, dan sektor FMCG (Fast Moving Consumer Goods) akan berbeda semua. Cash flow di sektor konstruksi akan tampak ngadat karena harus menunggu serah terima, perputaran modalnya cukup lama (bisa tahunan), kadang harus hutang dulu, itupun kalau ditengah jalan tidak ada masalah. Berbeda dengan FMCG yang perputaran omsetnya cepat.

Kalau masih belum belum puas dan ingin detail lagi. Maka pelajari apa yang menyebabkan nilai di LK berbeda, contoh karena ada peningkatan/penurunan harga bahan baku, adanya peningkatan tarif/pajak, penurunan konsumen, dsb. Analisa pula pasar mereka itu konsumen lama atau baru, cara mereka ekspansi, teknik akuisisi (misal pakai skema LBO/Leveraged Buyout), pemilihan investasi, penggunaan capex, dst… Banyak banget.

Jadi, inti dari analisa fundamental adalah untuk memilih emiten dengan prospek cerah di masa depan. Sebaiknya, sebelum kita masuk dan keluar investasi juga memakai analisa teknikal dan lainnya. Tahu sendiri harga saham itu bisa berfluktuasi naik-turun. Misal dengan memakai analisa teknikal kita bisa menghindari beli di puncak swing. Untuk value investing kita juga harus memperhatikan margin of safety. Sehingga imbal hasilnya pun lebih maksimal.

Analisa Teknikal

Analisa Teknikal adalah analisa yang paling populer di kalangan trader. Pemula yang baru belajar saham lebih cepat paham tentang teknikal daripada fundamental (pengamatan saya). Ada beberapa alasan, yaitu:

  • Kebanyakan pelaku pasar adalah seorang trader di mana durasi beli dan jual tidak lama, jadi kalau pakai fundamental istilahnya cuma buang-buang tenaga.
  • Analisa teknikal lebih cepat dilakukan, karena lebih banyak ke visual (pakai chart). Tidak seperti fundamental yang isinya angka dan grafik batang.
  • Analisa teknikal lebih bersifat objektif, jadi banyak orang yang berpendapat sama. Tingkat akurasinya lebih tinggi untuk jangka pendek. Berbeda dengan fundamental yang sifatnya subjektif, ada yang mengganggap valuasi murah ada pula yang menganggap sudah mahal.

Para analis teknikal menganggap bahwa data historis harga sudah menggambarkan keadaan emiten itu sendiri. Misal kalau kinerja emiten jelek, maka trend harga akan turun. Sedangkan kalau kinerja baik, maka trend harga saham juga akan naik. Tidak perlu bongkar Laporan Keuangan segala, tinggal lihat chart saja. Selesai.

Contoh price action dengan support & resistance

Banyak orang salah mengartikan bahwa analisa teknikal itu hanya ‘baca indikator’ saja. Salah satu teknik jitu di analisa teknikal adalah Price Action, yaitu: kita membaca chart atau data secara langsung tanpa perlu banyak indikator. Teknik ini perlu banyak pengalaman untuk benar-benar paham cara mengatasi di berbagai situasi, soalnya tidak pakai indikator teknikal yang langsung kelihatan.

Sedikit curhat

Saya sering menjumpai orang yang pakai banyak indikator sampai layar monitornya penuh. Misal pakai 3 Moving Average, masih ditabah MACD, tambah Stochastic, tambah RSI, tambah Fractal, dst. Kita bisa simpulkan kok, tipe orang seperti ini sebenarnya tidak mengerti sama sekali kenapa harga bisa bergerak. Tahunya indikator itu kasih sinyal, lalu tinggal beli dan jual. Tahunya cuma overbought dan oversold. Kalaupun Support & Resistance cuma tahu garis horizontal saja. Mereka sering bilang “fake out” ketika harga berbalik arah.

Contoh indikator berlebihan sampai memenuhi layar

Buat saya fake out itu sebenarnya tidak ada, yang ada kitalah yang tidak teliti analisa. Atau justru karena tidak mengerti kenapa harga bisa begitu. Saya tahu benar, karena dulu pas awal belajar saya juga mengalami fase ini. Ada teori namanya Dunning-Kruger-effect. Adalah hal lumrah kalau di fase awal, baru belajar dikit udah merasa paham semua. Hal tersebut terjadi berulangkali dan berlaku untuk semua teknik analisa.

Ini adalah fase yang bikin jengkel orang, kalau mereka ditegur suka merasa pinter sendiri, bilangnya “coba lihat hasilnya kan profit”, “TiNGgaL GaNTi tiMeFRaMe sAja ToH”, “ah masak sih?”. Haha… saya yakin mereka baru belajar seumur jagung. Profit yang mereka kejar 2%-4%, apalagi kalau lebih bangganya udah setengah mati. (dulu saya pernah di invite ke grup spt ini, mereka bahkan jual strategi MA seharga 500k. Amit-amit)

Saya bukannya mengatai kalau pakai indikator itu jelek, maksud saya kelakuan para pemula yang baru belajar itu loh. Mereka lupa kalau indikator itu sekedar “mengindikasikan”. Untuk analisa teknikal kita sebaiknya juga paham dengan kepribadian pasar dan karakteristik saham itu sendiri. Strategi pakai indikator itu memang ada, saya juga kadang pakai indikator untuk konfirmasi pergerakan harga. Misal cek perubahan volume, cek konvergen-divergen, dan confluence. Analisa teknikal lebih mantap dipakai bersama analisa lain, seperti fundamental dan bandarmologi.

Bandarmologi

Kalau kita ditanya, “bagaimana harga saham bisa bergerak?”. Jawabannya ya karena ada transaksi jual beli. Banyak peminat maka harga naik, banyak yang buang maka harga turun. Tapi siapa sih pelaku pasarnya? Kita? iya. Tapi modal kita tidak seberapa, yang pegang uang gede lah yang dapat dikatakan sebagai pemain utamanya. Para pemain besar modalnya tidak main-main, bisa ratusan milyar hingga trilliunan rupiah.

Mereka inilah yang disebut sebagai ‘bandar’, karena aksi mereka bisa menggerakkan pasar. Mereka kalau masuk bisa ratusan ribu sampai jutaan lot. Bandar itu bisa lembaga, sekuritas, orang bermodal besar, atau sekelompok orang yang saling kerjasama, baik dalam negeri atau dari luar negeri. Namanya juga pasar pasti ada banyak macam orang. Ilmu yang mempelajari pergerakan arus modal dari asing disebut sebagai foreign flow.

Contoh melihat foreign flow. sumber: hqsahamidx
Contoh top broker UNVR 1 Juli 2020, sumber: RTI

Tujuan dari mempelajari analisa bandar atau bandarmologi adalah agar kita bisa ikutan numpang ketika harga ‘dibuat’ naik. Jadi ketika bandar akumulasi beli maka kita ikut beli, serta pas mereka jual kita juga ikut jual. Gampangnya, kita jadi penumpang gelap. Tapi mau tak mau, kita harus selalu memantau pergerakan mereka. Sampai-sampai banyak tools diluar sana yang khusus mencari saham mana yang diincar bandar.

Cara kerja

Bandar ada yang (cenderung) baik dan ada juga bandar kejam. Bandar baik masih mengikuti analisa fundamental atau teknikal. Jadi tujuan mereka yang memang benar-benar untuk trading. Sedangkan, bandar yang kejam adalah bandar yang sengaja mencari keuntungan dari penderitaan orang lain. Mereka sengaja memanipulasi pergerakan harga, mereka juga kadang pom-pom untuk cari korban, kadang pemain besar bisa memakai media berita untuk melancarkan aksinya.

Contohnya begini, ada suatu saham yang pergerakannya gitu-gitu aja. Fundamental-nya biasa saja, jadi ya tidak banyak yang transaksi. Lalu tiba-tiba ada berita bagus tentang saham tersebut, banyak berita baik bermunculan. Katakan dapat proyek lah, prospek cerah lah, dsb. Di sinilah saham mulai banyak dibeli sehingga harga naik. Ketika harga sudah dirasa tinggi, maka si bandar jualan agar dapat profit.

Kadang ada pom-pom, rekomendasi suruh beli ini karena diprediksi harga akan terus naik. Padahal yang jual ya si bandar. Ujung-ujungnya harga akan turun karena tidak ada peminat lagi. Contoh lain adalah harga saham sengaja dibanting, tujuannya agar banyak yang panik sehingga banyak yang cutloss. Bandar lah yang menampung/membeli saham yang dibuang tadi, tujuannya agar bandar dapat barang makin banyak. Banyak lagi contohnya.

Bisa dikatakan ilmu bandarmologi adalah ilmu kucing-kucingan. Meskipun kita tahu ada saham yang diincar bandar, kita tetap tidak bisa sembarangan masuk. Kita harus ekstra hati-hati agar tindakan kita tak terdeteksi mereka. Bandar pasti gak mau dong ada penumpang yang seenak jidat nebeng. Kalau kita membangunkan macan tidur, bisa-bisa mereka menyerang kita. Bandar bisa ngambek, bisa-bisa saham malah dibanting dan ditinggalkan.

Kesimpulan

Lalu analisa apa yang paling baik? Jawabannya semua ada baik dan jeleknya. Terserah anda mau pakai apa, mau sambil loncat dan guling-guling tidak masalah. Hal yang paling penting adalah bagaimana kita memanage modal kita dan pintar menjaga psikologis ketika trading. Selalu evaluasi strategi secara berkala, kalau perlu buat catatan setiap kali beli dan jual. Nanti akan kelihatan kok mana yang bikin profit dan mana yang bikin buntung.

Percuma juga kalau analisa berjam-jam tapi ketika beli malah all-in (semua modal dipakai). Iya kalau naik, lha kalau tidak? Bisa-bisa modal kita hilang dan stress berat. Maka dari itu, diperlukan Money Management (MM) yang baik, misal modal dibagi ke 10-20 saham berbeda. Tujuan dari MM sendiri, tak lain juga untuk menjaga kondisi psikologis kita, misal kalau rugi maka kita tidak begitu tertekan. Karena kalaupun ada yang turun masih ada yang naik.

Untuk itulah, di Muhaaz Saham tidak hanya membahas teknik analisa tapi juga akan disertai artikel seri Money Management dan materi tentang Psikologi. Saya sudah menyiapkan banyak Excel yang bisa anda gunakan. Yah.. walau ketika artikel ini ditulis masih belum pada rilis sih wkwk.

Oke. Sekian artikel tentang perbedaan teknik analisa di pasar saham. Semoga membantu. Kalau ada pertanyaan, kritik & saran silahkan tinggalkan komentar di bawah.

Terimakasih.

Muh Aziz

Jika anda memiliki pertanyaan, kritik atau saran, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Anda juga bisa berdikusi di Grup Muhaaz Saham WA & Telegram yang dapat anda ikuti secara gratis di muhaaz.com/saham/join/.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *