Analisa Volume part1 – Alasan Penting dan Indikator Volume

Artikel ini akan membahas semua teknik analisa volume, dari pengertian volume, penyebab volume berubah, cek tingkat likuid, filter saham dengan volume, volume pada trend dan sideways, analisa perubahan volume, kapan harus masuk & keluar, serta contoh dan strategi menyikapinya.

Artikel ini akan dibagi ke beberapa part. Karena jika dijadikan satu halaman akan sangat panjang. Selain itu akan memakan waktu lama jika harus menunggu semua rampung di tulis. Berikut pembagian artikel analisa volume:

Kenapa analisa volume penting?

Kita mulai dulu dari pengertian volume. Volume adalah jumlah aset/saham yang telah diperdagangkan dalam periode waktu tertentu. Misal dalam satu hari terdapat aksi jual-beli sebanyak 5 juta lembar saham. Maka itulah besar volume pada hari itu. Jika besok jumlah volume menjadi 6 juta maka bisa dikatakan volumenya meningkat. Sebaliknya, jika besok volumenya hanya 3 juta maka bisa dikatakan volumenya menurun.

Berikut contoh historical data dari PTBA:

Data PTBA. Sumber: Yahoo Finance

Pada tabel di atas, tampak volume harian PTBA mencapai puluhan hingga ratusan juta lembar. Jadi bisa dikatakan bahwa saham PTBA adalah likuid karena banyak ditransaksikan. Tidak ada patokan pasti berapa batas minimal agar disebut likuid. Tapi saya sendiri menilai agar bisa disebut likuid, maka volume minimal dalam satu hari adalah 1 juta – 5 juta dan nilai turnover minimal sekitar Rp10-50 milyar perhari. Di atasnya lebih baik. Anda bisa cek di RTI (M = millions/juta, B = billions/milyar). Akan saya bahas lebih lanjut di part2.

PTBA dengan analisa teknikal

Gambar di atas adalah contoh chart dari PTBA di 2018 memiliki rata-rata volume 32M (32 millions atau 32 juta). Tampak pergerakan harganya cukup mulus dan mudah dibaca dengan analisa teknikal seperti Support & Resistance. Hal ini juga menandakan saham PTBA diminati masyarakat dan lembaga, artinya fundamental tidak (begitu) jelek karena masih ada yang mau beli. Sekarang lihat chart di bawah:

MLPT harganya acak-acakan

Saham MLPT di atas memiliki rata-rata volume 16K (alias 16 ribu) saja pada 2018. Kadang ramai, kadang sepi. Alhasil pergerakan harganya juga tidak mulus. Jika ada yang beli bisa langsung naik, terkadang malah tidak ada yang beli jadinya harga flat/tidak bergerak. Bisakah anda menebak pergerakan harga selanjutnya? Kalau bisa silahkan komentar di bawah, agar kita bisa saling berbagi ilmu. Hehe…

Penyebab volume berubah

Meningkatnya volume bisa karena peningkatan beli ataupun peningkatan jual. Karena, jika mau beli harus ada yang jual, serta jika mau jual harus ada yang beli. Kalau jumlah buyers dan seller mencukupi maka harga akan bergerak. Harga akan naik jika buyers lebih banyak dan harga akan turun jika sellers yang lebih banyak.

Begini. Kalau ada saham yang diminati banyak orang, maka mereka akan rela beli lebih mahal agar punya saham tersebut (beli di offer). Sehingga harga saham akan naik karena ramai dibeli. Begitu pula kalau ada saham yang tidak diminati, mereka lebih memilih membuang saham tersebut dengan marga murah (jual di bid). Akhirnya menyebabkan harga turun.

5 order terakhir dari PTBA. Sumber: RTI

Contohnya seperti order book dari PTBA di atas. Kita bisa lihat pada harga 2450 ada 100k lebih yang bid (lihat bvol), sedangkan pada 2460 hanya ada 9k offer (ovol). Artinya, harga akan mudah naik ke atas 2460 karena banyaknya permintaan oleh buyers. Agar harga bisa turun di bawah 2450 maka semua permintaan di 2450 harus terpenuhi.

Tapi jika buyers dan sellers sangat tidak seimbang, maka bisa menyebabkan harga terbang atau malah anjlok! Kok bisa? Coba cek order book berikut:

Tidak ada yang bid. Sumber: RTI

Pada tabel di atas, bagian bvol (bid volume) tidak ada nilainya. Artinya pada hari tersebut tidak ada yang mau beli. Semua orang pasang offer semurah mungkin.

Ketika pandemi, batas ARB menjadi 7%

Alhasil harga akan ARB (baca ARA/ARB di sini) yang menyebabkan harga tidak bisa bergerak lebih dalam. Dengan kata lain saham kita nyangkut! Kita harus menunggu beberapa hari lagi sampai harga anjlok… atau setidaknya hingga ada yang minat beli. Hal ini juga berlaku dengan saham yang memiliki bid banyak tapi tidak ada offer (tidak ada yang mau jual). Akibatnya harga akan terbang hingga mencapai ARA.

Terakhir, kalau tidak ada transaksi di hari itu (volume kosong), maka otomatis harga saham tidak akan bergerak. Biasanya disebabkan ada yang pasang bid dan offer, tapi tidak ada yang mau ambil. Bisa juga karena saham di suspensi BEI. Inilah yang menyebabkan volume sangat penting dalam analisa.

Contoh harga tidak bergerak

Right issue, stock split, dan reverse stock split juga akan mempengaruhi tingkat likuiditas saham. Right issue artinya jumlah saham beredar akan ditambah, biasanya sekian persen. Stock split berarti jumlah saham akan dipecah. Contoh rasio stock split 1:5, maka untuk saham Rp5000 dengan saham beredar 30 juta lembar, maka akan menjadi saham baru dengan harga Rp1000 dan 150 juta saham beredar. Sehingga tingkat likuiditas bisa berlipat ganda. Sedangkan, reverse stock split adalah kebalikan stock split, yaitu jumlah saham akan digabung menjadikan saham beredar akan berkurang.

Gampangnya seperti itu. Tapi pada nyatanya ada kasus dimana harga terus naik tapi volume malah makin turun. Ada juga kasus di mana volume meningkat tajam 100x lipatnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana cara menyikapinya? Di sinilah analisa volume diperlukan. Analisa volume menekankan pada analisa perubahan volume dan jumlah volume itu sendiri terhadap pergerakan harga. Semua akan saya bahas di seri ini satu per satu.

Indikator volume

Sebelum kita melakukan analisa, kita harus mengerti dulu cara memakai indikator volume. Kita sebenarnya bisa melihatnya di history transaksi saham dalam bentuk tabel. Tapi karena baca tabel bikin kejang-kejang, maka kita akan menggunakan chart untuk mempermudah analisa. Jika anda punya aplikasi trading atau aplikasi charting, silahkan anda buka. Apabila anda pakai browser maka anda bisa pakai RTI untuk cek data saham di Indonesia:

Link chart RTI: https://analytics2.rti.co.id/tview/index_tview.jsp

Anda juga bisa pakai Investing (https://id.investing.com/indices/idx-composite-chart) tapi anda perlu pasang VPN dulu. Saya biasanya pakai HOXX. Ada juga TradingView, tapi berbayar untuk data Indonesia. Sedangkan Yahoo Finance tidak saya rekomendasikan untuk analisa volume, karena YF menampilkan hari libur sebagai flat yang bisa mengacaukan teknik analisa.

Perlu dicatat bahwa indikator Volume hanya menampilkan hasil transaksi di pasar saham reguler (RG). Entah itu jual-beli trader domestik ataupun asing akan dijadikan satu. Sehingga, kalau ada transaksi di luar pasar reguler, misal pasar negosiasi atau aksi korporasi seperti akuisisi maka volumenya tidak akan ditampilkan. Untuk itu, sebaiknya kita sesekali membaca berita emiten agar tidak kudet.

Menambahkan indikator volume

Hampir semua aplikasi trading dan charting menyediakan fitur ini. Ketika kita membuka chart, maka otomatis akan muncul indikator volume di bagian bawah, seperti gambar berikut:

Catatan bagi anda pengguna RTI, Investing, dan TradingView: ketika kita double klik di bagian harga, maka indikator volume akan hidden. Maka dari itu coba anda klik 2x lagi untuk memunculkan. Jika di halaman tetap tidak ada, maka klik menu indikator kemudian pilih Volume.

Jika volume belum muncul, maka tambahkan.

Secara default, bentuk indikator volume adalah grafik batang (bar). Anda bisa mengubahnya lewat pengaturan volume, tapi di seri artikel ini saya akan pakai grafik batang. Jadi mohon menyesuakan.

Grafik batang

Bagian-bagian indikator volume

Pada chart yang memakai script TradingView (seperti RTI dan Investing), maka secara default warna volume bar sesuai dengan warna candlestick. Jika candle hijau maka volume hijau dan jika candle merah maka volume akan merah. Jika tidak ada perubahan harga (doji) maka volume berwarna hijau. Untuk aplikasi selain TradingView, anda bisa mengamati perubahannya.

Tidak ada pengaruh warna hijau dan merah dengan analisa volume. Mau abu-abu juga tidak masalah. Toh, yang akan kita analisa adalah nilai volume itu sendiri. Dalam indikator volume, maka yang akan kita analisa adalah perbedaan tinggi bar. Simpelnya, naik atau turun, trend meningkat atau berkurang, kosong atau tidak, dan seterusnya.

Indikator volume biasanya akan menyertakan Moving Average (baca penjelasan MA di sini). Fungsi MA adalah untuk memberikan informasi harga rata-rata pada periode tertentu. Contoh dalam 20 hari terakhir. Ini penting, karena kadang volume sedikit dan terkadang ada volume yang besar dalam satu hari. Anda bisa melihat nilainya di anak panah merah pada gambar di atas tadi. Angka merah = volume sehari, angka hitam = nilai MA.

Oke, saya rasa cukup untuk pengenalan volume dan indikatornya. Pada part 2, saya akan mencontohkan pemakaian volume untuk filtering (menyaring), jadi kita bisa menilai apakah saham tersebut cocok tidak untuk trading dan investasi.

next >> Analisa Volume part2 – Ciri Saham Bermasalah dan Tak Likuid

Muh Aziz

Jika anda memiliki pertanyaan, kritik atau saran, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Anda juga bisa berdikusi di Grup Muhaaz Saham WA & Telegram yang dapat anda ikuti secara gratis di muhaaz.com/saham/join/.

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. 19 Juni 2020

    […] analisa khusus sebagai acuan entry dan exit. Saya tetap menyarankan Support & Resistance serta Volume sebagai basis analisa teknikal. Gunakan MA untuk konfirmasi trend […]

  2. 19 Juni 2020

    […] Lalu kenapa kadang harga tidak ke resistance tapi malah balik di tengah jalan? Bagaimana cara mengukurnya? Itu ada teknik analisa sendiri, misal pakai Elliot Wave dan mencermati perubahan Volume (baca di sini) […]

  3. 1 Juli 2020

    […] itu memang ada, saya juga kadang pakai indikator untuk konfirmasi pergerakan harga. Misal cek perubahan volume, cek konvergen-divergen, dan confluence. Analisa teknikal lebih mantap dipakai bersama analisa lain, […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *