Analisa Volume part2 – Ciri Saham Bermasalah dan Tak Likuid

Saya sempat bingung part2 dan part3 mana yang lebih dulu. Tapi saya memutuskan artikel ini sebagai part2 saja. Alasan utamanya karena di part3 kita sudah masuk ke bagian inti analisa volume. Sedangkan tidak semua saham memiliki volume yang bisa dijadikan acuan untuk memprediksi pergerakan harga di part3 nanti.

Artikel ini dapat kita gunakan sebagai “filter” saat kita memilih saham. Beberapa poin sudah saya singgung di part1, tapi di sini akan saya jelaskan lebih lanjut. Volume bisa digunakan sebagai indikator untuk melihat apakah saham sedang bermasalah atau tidak? Serta untuk mengetahui tingkat likuid harga. Berikut cara mengindentifikasi saham bermasalah berdasarkan volume:

1. Volume pernah 0 (kosong)

Apabila ada volume bernilai kosong (nol) artinya tidak ada transaksi apapun di hari itu. Penyebab yang paling utama adalah adanya suspensi dari BEI sehingga saham tidak bisa diperdagangkan. Jangka suspensi bisa satu hari sampai batas waktu tidak ditentukan (selamanya), harus menunggu BEI mencopot suspensi tersebut.

Saham yang terkena suspensi artinya ada masalah yang terjadi di emiten tersebut. Misalnya adalah gagal bayar. Jika berita gagal bayar muncul, maka bisa menyebabkan harga saham anjlok. Para investor akan cepat-cepat keluar dari saham yang tidak sehat. Inilah yang membuat BEI untuk menghentikan transaksi saham (disuspensi). Anda tidak bisa menjual saham yang terkena suspensi, alhasil uang anda akan terperangkap (bisa selamanya).

Tipsnya begini, kalau kita menemukan ada sekian hari yang volumenya 0 (kosong). Maka segera hindari saham tersebut. Besar kemungkinan akan terjadi suspensi lagi. Jika anda terlanjur beli saham maka segera keluar selama masih bisa transaksi. Kalau emang emiten tersebut bagus (fundamental mumpuni), pasti tidak mungkin akan disuspensi. Contoh kasus terbaru yaitu TELE, perhatikan chart di bawah:

Pada bulan februari TELE pernah suspensi. Sebagai buktinya berikut keputusan BEI di bulan februari untuk saham TELE: (klik untuk memperbesar)

Apa yang terjadi selanjutnya? Ternyata pada bulan Juni, TELE disuspensi lagi mulai tanggal 10 Juni 2020. Dan tahukah anda bahwa berita TELE tak sanggup bayar baru keluar sore hari kemarin (sebelum surat suspensi dikeluarkan). Sehingga pas pagi hari banyak trader kebingungan karena tidak bisa jual saham! Mereka harus menunggu entah sampai kapan. Bahkan pada 22 Juni 2020 dilakukan perpanjangan suspensi TELE:

Gak bisa tidur deh…

Untuk itulah, jika anda menemukan volume kosong maka segera cari berita terkait emiten tersebut. Kalau perlu langsung tarik uang kita saja.

2. Volume sangat kecil (Tidak Likuid)

Volume transaksi yang kecil menandakan bahwa saham tersebut kurang likuid. Cara mengenali saham yang kurang likuid diantaranya, yaitu:

  • Turnover sangat kecil, biasanya di bawah Rp10-50 milyar per hari. Anda bisa cek di RTI (M = millions/juta, B = billions/milyar).
  • Volume rata-rata harian di bawah 1-5 juta lembar saham.
  • Harga lompat-lompat tidak jelas (bid/offer jarang). Normalnya bisa ribuan hingga puluhan ribu bvol/ovol.
  • Transaksi sedikit, hanya beberapa kali.
  • Kadang harga langsung terbang dan terjun dalam waktu singkat.
  • Tidak ada hubungan dengan Market Cap. Bisa terjadi di cap manapun. Tapi biasanya di Market Cap kurang dari 10T.

Banyak sekali saham dengan tipe volume seperti ini. Sebaiknya kita hindari. Mayoritas saham di BEI justru masuk kategori ini dan terkadang malah parkir di Rp50, alias saham tak bisa ditransaksikan lagi. Contoh saham dengan volume kurang likuid misalnya AKPI yang volumenya hanya ribuan lembar, perhatikan chartnya di bawah:

Jika kita melihat orderbooknya, akan terlihat bahwa AKPI tidak laris karena hanya sedikit yang order. Baca “Cara Membaca Orderbook” di sini.

Orderbook AKPI 22 Juni 2020

Frekuensi transaksinya juga sedikit sekali

Frekuensi transaksi AKPI 22 Juni 2020

Seperti di sebutkan sebelumnya, tingkat likuid tidak ada hubungan dengan market cap. Banyak sekali saham yang berkapital besar tapi kurang likuid. Saham berkapital besar seperti ini biasanya bertipe holding dan tidak menjalankan usaha. Laporan Keuangan mereka hanya berisi nilai kepemilikan di anak perusahaan. Alhasil harga saham juga susah ditebak bahkan malah tidak bergerak.

Saham yang kurang likuid memiliki banyak kekurangan, seperti: kita tidak bisa masuk dengan dana besar, sekalipun masuk bisa susah keluar karena sedikit peminat, mudah “digoreng” bandar (harga dipermainkan), nilai valuasi fundamental menjadi kurang kredibel (harga berubah tidak jelas) sehingga tidak bisa dijadikan acuan value investing, dan lain-lain.

3. Terjadi kenaikan volume tajam

Tidak semua saham memiliki volume “sehat”. Saya menyebut “tidak sehat” karena ketika harga naik dan turun, volumenya tidak seimbang. Biasanya karena saham ramai di waktu-waktu tertentu. Jadi harga naik bukan karena saham tersebut menarik secara fundamental atau apa, tapi karena digerakkan oleh bandar, hasil pom-pom, atau karena banyak yang mengejar capital gain sebelum cum date dividen (baca: Cara Dapat Divien).

Tentu resikonya harga saham akan cepat turun pula. Sesuatu yang cepat datang juga akan cepat pergi. Harga cepat naik dengan volume besar bahkan sampai ARA. Tapi ketika turun juga langsung ARB berkali-kali. (baca: ARA/ARB)

4. Volume meledak ledak

Hampir mirip dengan nomor 3, tapi di sini tidak ada transisi dari sedikit ke banyak. Pada kasus ini, volume akan langsung lompat naik dan lompat turun. Jumlah volume yang meledak cenderung sama. Hal ini menandakan ada “oknum” yang mempermainkan saham ini. Sebaiknya kita hindari, karena kita bisa susah menjual saham kita (karena sejatinya volume saham ini sangat rendah)

5. Nilai volume selalu sama

Ketika Hal ini mengindikasikan bahwa ada “permainan” di saham tersebut. Entah apa yang terjadi, tapi patut dipertanyakan bagaimana bisa volume selalu sama? Kita sebaiknya tidak perlu ikut-ikutan. Kalau mereka tidak senang, bisa-bisa mereka tak mau transaksi lagi. Akhirnya saham kita bisa nyangkut!

Selanjutnya

Oke. Sekarang kita sudah bisa memilih saham mana yang sebaiknya dihindari berdasarkan volume. Sebenarnya kita juga bisa mengidentifikasi berdasarkan orderbook. Baca 7 Ciri Orderbook Mencurigakan (Ada Bandar?)

Di part selanjutnya saya akan membahas bagaimana cara menganalisa volume terhadap harga saham di berbagai kondisi, misal: dalam keadaan normal, ketika ada trend, anomali volume, hingga memprediksi pergerakan saham berdasarkan volume.

prev << Analisa Volume part1 – Alasan Penting dan Indikator Volume

next >> Analisa Volume part3 – Harga dan Trend

Muh Aziz

Jika anda memiliki pertanyaan, kritik atau saran, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Anda juga bisa berdikusi di Grup Muhaaz Saham WA & Telegram yang dapat anda ikuti secara gratis di muhaaz.com/saham/join/.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. 23 Juni 2020

    […] part2 – Ciri Saham Bermasalah dan Tak Likuid […]

  2. 9 Juli 2020

    […] << Analisa Volume part2 – Ciri Saham Bermasalah dan Tak Likuid […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *