Kebiasaan Buruk dalam Trading/Investasi

Ada yang bilang bahwa trading itu 80% psikologi, 20% teknik. Sekalipun kita jago analisa, tapi kalau kita tidak bisa mengendalikan emosi maka bisa membuat rugi dan modal hangus. Salah satu cara untuk mengendalikan emosi adalah dengan melalukan kebiasaan positif. Kita tidak akan emosi kalau tidak ada yang bikin emosi kan?

Tapi, entah bagaimana pasti masih ada juga kebiasaan buruk yang belum hilang. Itu ada di semua orang, baik trader/investor pemula ataupun veteran. Kebiasaan paling buruk adalah rasa malas, serakah, malu, dan tidak disiplin. Hhmmm… Berikut penjelasannya:

Malas

Malas

Rasa malas adalah hal pertama yang paling menghambat kita berkembang. Orang kalau sudah malas, tujuan mereka tidak akan pernah tercapai. Contoh paling simpel adalah malas belajar. Baca buku gak pernah, buka youtube gak mau, apalagi baca artikel malasnya minta ampun. Ngeles terus, bikin sakit mata lah, bikin pusing lah, sibuk, dan seterusnya. Segitu susah kah meluangkan waktu 10-15 menit tiap hari/minggu?

Contoh berikutnya adalah malas analisa. Tipe orang seperti ini biasanya suka cari rekomendasi, misal: ikut grup premium yang kasih menu tiap hari, cari rekomendasi di situs berita, cari rekomendasi dari sekuritas, cari info di Instagram, dan lain-lain. Ingat, ketika kita trading maka tetap kita yang memutuskan.

Mereka yang kasih rekomendasi pasti selalu kasih disclaimer. Jadi kalau kita rugi maka mereka tidak mau tanggung jawab. Cari rekomendasi juga rawan terkena pom-pom (dihasut biar beli). Kita disuruh beli, padahal mereka yang jual. Ujung-ujungnya harga anjlok karena aslinya memang tidak laris. Kalau sudah begini kita harus mengadu ke siapa? Apalagi kalau modal kita adalah uang panas.

Bahkan paling parah, ada orang saking malasnya sampai ikutan mopit (titip modal). Jadi kita transfer uang, esoknya dijanjikan profit 20%-40%! Saya berani jamin mopit seperti itu 101% penipuan, yang ada uang kita malah dibawa kabur. Kalau mereka beneran jago, kenapa tidak pinjam bank saja lalu bulan depan dikembalikan, itupun masih sisa banyak.

Jika kita sudah beneran malas trading, lebih baik modal kita dimasukkan ke Reksadana atau ke deposito saja yang lebih kredibel. Atau sekalian buat beli tanah yang tiap tahun harganya naik terus. Buat apa ikutan trading/investasi saham iya kan? Apalagi disuruh cek harga saham tiap minggu/bulan pasti lebih ogah lagi.

Serakah

Serakah uang

Rasa serakah adalah hal yang paling umum menjangkiti. Entah itu trader pemula ataupun trader yang sudah veteran. Pasti ada saat-saat tertentu kita ingin profit banyak. Misal tergiur harga naik terus, ada berita bagus, rilis laporan keuangan bagus, sangat suka dengan 1-2 saham, ingin masuk lebih dini, dan lain-lain.

Orang yang serakah di pikirannya ingin cuan banyak dalam waktu singkat. Alhasil mereka mau meresikokan lebih banyak modal. Misal begini, kita sudah berencana untuk membagi modal ke 10-20 saham. Jadi kalau ada harga saham turun maka masih ada yang naik. Serta tidak membuat kita stress karena tiap posisi modalnya kecil. Tapi karena tergiur dengan sesuatu maka membuat kita melanggar money management yang sudah dibuat.

Akibatnya sampai berani meresikokan lebih banyak modal demi mencapai profit lebih banyak. Misal pakai 25% modal, 50% modal, atau malah all-in (semua modal dipakai) untuk beli 1 saham saja! Wow. Beneran ada loh orang seperti ini kalau anda tidak percaya. Jujur pas awal-awal belajar saya juga pernah all-in. Untungnya harga saham naik. Habis itu saya kapok karena tekanan mentalnya sangat berat.

Selain itu, rasa serakah juga bisa membuat kita gelap mata. Membuat kita ingin menambah modal lagi, kita sangat yakin harga saham jagoan kita akan naik. Banyak sekali cerita orang pakai uang belanja untuk tambah posisi, pakai uang darurat, sampai jual sawah, sampai jual rumah, atau bahkan sampai berhutang!

Iya kalau harga naik, kalau langsung anjlok? Masa depan tidak ada yang tahu. Menaruh semua telur dalam satu keranjang adalah hal yang tidak bijaksana. Kita harus selalu rasional dan sabar ketika trading/investasi. Bursa saham tidak akan kemana-mana, kalau hari ini tidak dapat toh masih ada esok hari.

Tidak percaya diri/Malu

Tidak percaya diri/Malu

Rasa malu biasanya datang saat kita akan berinteraksi dengan orang lain. Kita malu bertanya/menyampaikan pendapat di grup karena takut dianggap bodoh, takut ditertawakan, takut jawaban salah, takut dikucilkan, dan sebagainya. Aduh mas mbak, justru kalau anda malu-malu malah bisa membuat masalah anda semakin parah.

Masalah yang sebenarnya sepele, tapi karena malu bertanya maka tidak kunjung selesai. Bikin tidak bisa tidur karena kepikiran terus, malas makan, deg-degan terus, jalan mondar-mandir, dsb. Haha.

Takut menyampaikan pendapat juga bisa berujung fatal. Karena kita tidak pernah memberi tahu orang lain, jadi tidak ada orang yang mengoreksinya. Kita sangat yakin akan sesuatu hingga membuat kita tersesat. Tapi kita juga tidak sadar apakah sedang tersesat atau tidak. Kalau sudah begini bagaimana?

Kurang disiplin

violation kurang disiplin

Kurang disiplin hampir mirip dengan malas. Bedanya, malas itu membuat kita tidak bergerak. Sedangkan kurang disiplin membuat kita bergerak asal-asalan. Kurang disiplin juga berarti kita tidak menjalankan sesuatu dengan semestinya.

Contohnya begini, andaikan kita sudah membuat strategi trading/investasi. Entah pakai analisa teknikal, analisa fundamental, analisa bandarmologi, terserah. Yang pasti, menurut strategi ini kita akan beli saham ketika kondisi X terpenuhi. Tapi setelah beberapa kali praktek, kita malah tidak mengikuti strategi tersebut lagi.

Mungkin karena meragukan, karena tergiur dengan suatu saham, atau mungkin karena menemukan strategi baru yang malah belum diuji sama sekali. Perlu diketahui, testing strategi itu tidak bisa satu dua kali jadi. Perlu waktu lama dan tes yang banyak. Kondisi pasar itu bermacam-macam. Strategi yang sebenarnya cocok, tapi karena kita gonta-ganti terus malah kehilangan kesempatan beli jual saham.

Kurang disiplin juga bisa membuat kita melanggar money management. Katakan kita punya aturan sebelum beli saham, maka harus dihitung rasio Target Profit dan Stop Loss = minimal 2:1. Artinya, targat jual harus 2x dari resiko rugi. Misal kita ingin profit 300, maka maksimal rugi adalah -150. Serta kita punya aturan maksimal rugi per posisi adalah 5%.

Tapi karena kurang disiplin, kita berani meresikokan lebih banyak loss ketimbang profit. Target Profit yang seharusnya lebih besar dari rugi malah dibalik. Kita ingin profit 300, tapi stop loss diset -600. Ini sih sama saja dengan bunuh diri. Begitu juga dengan maksimal rugi yang seharusnya 5%, malah dibiarkan nyangkut jadi investor dadakan.

Setelah baca artikel ini anda dapat skor berapa? Hayo ngaku. Wkwk…

Muh Aziz

Jika anda memiliki pertanyaan, kritik atau saran, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Anda juga bisa berdikusi di Grup Muhaaz Saham WA & Telegram yang dapat anda ikuti secara gratis di muhaaz.com/saham/join/.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *